Oleh-oleh dari Sail Selat Karimata 2016

Kesuksesan puncak acara Sail Selat Karimata 2016 di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat menyisakan cerita yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kompas.com merupakan satu dari sekitar 4.000 orang Jakarta yang datang ke acara itu.

Kamis, 13 Oktober pukul 09.47 WIB, saya dan sekitar 20 jurnalis berbagai media massa di Jakarta tiba di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Speed boat berkapasitas 30 orang bersandar di salah satu dermaga, diapit kapal-kapal besar pengangkut barang kebutuhan pokok ke sejumlah daerah di sepanjang Sungai Kapuas

Setengah jam kemudian, speed boat terisi penuh. Bahkan sedikit overload. Permukaan air sungai hanya satu setengah jengkal saja jaraknya dengan besi tempat penumpang berpegangan.

“Rooaarrrr,” suara dua mesin speed boat masing-masing berkapasitas 200 cc dihidupkan. Tepat pukul 10.00 WIB, ‘sepit’, sebutan orang setempat untukspeed boat mulai melaju sekitar 50 km/jam. Kayong Utara, tunggu kami…

Nikmat di Atas Sengsara

Tempat duduk pada ‘sepit’ itu tidak terlalu nyaman. Terdapat sekitar delapan deret kursi. Satu deret maksimal diisi empat orang. Bokong penumpang cukup pas melekat pada bangku. Kaki pun cukup nyaman lantaran bisa setengah selonjoran di bawah kursi depan.

Namun, bagi yang satu deret diisi empat penumpang, tak akan mungkin bisa bersandar di kursi semuanya. Sebab, bahu sesama penumpang akan tumpang tindih. Alhasil, demi kenyamanan, jika penumpang deretan paling pinggir bersandar di kursi, penumpang di sebelahnya harus duduk agak maju.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANSuasana senja di Pantai Pulau Datok yang menjadi pusat perhelatan Sail Selat Karimata 2016 di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

Dua penumpang di deret yang sama lainnya juga mesti demikian, harus selang-seling. Ada yang bersandar, ada yang maju secara bergantian. Deretan di depan saya duduk hanya diisi tiga orang. Maklum, ketiganya berukuran badan besar-besar.”Sekiter lima jam lah sampe Kayong. Jadi sabar-sabar saje,” ujar nakhoda ‘sepit’ dengan logat khas Melayu.

Selain sempitnya tempat duduk, ada cobaan lain yang harus dihadapi kami selama lima jam lebih di speed boat itu, yakni angin kencang. Siap-siap masuk angin kika penumpang tidak memakai jaket atau penutup kepala sepanjang perjalanan.

Seperti saya ini. Untung saya tidak sakit. Mungkin karena sepanjang perjalanan, perut selalu saya isi dengan cemilan. Meski boleh dibilang sengsara, namun selalu saja ada nikmatnya. Selain canda tawa sesama penumpang, pemandangan di sepanjang Sungai Kapuas juga menjadi obat kejenuhan perjalanan.

Aktivitas kapal pengangkut pasir dan kayu gelondongan. Entah ilegal atau legal. Riangnya anak-anak yang bermain di tepi sungai, rumah-rumah yang kokoh berdiri di atas sungai, juga misteriusnya rimbunan pohon di tepi sungai. Semua jadi ‘obat’ sengsaranya perjalanan.

Juga ketika nahkoda memainkan kemudi ‘sepit’nya ke kiri dan ke kanan. Entah saat sungai berkelok, menghindari sampah kayu atau memotong ombak yang dihasilkan oleh sesama kapal lainnya. Penumpang seakan menaiki wahana petualangan di Dufan. Seru!

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANAtraksi terjun payung yang turut memeriahkan puncak rangkaian Sail Selat Karimata yang dipusatkan di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

Di tengah waktu perjalanan, kami bersandar di dermaga Kecamatan Batuampar, Kabupaten Kubur Raya. Waktu istirahat sekitar 20 menit kami manfaatkan dengan meluruskan kaki, mengendorkan otot pinggang dan sekadar makan serta minum ringan.Saya kira, ‘sepit’ hanya melalui sungai saja. Namun ternyata melalui laut juga. Hantaman ombak cukup bikin jantung ‘deg-deg ser’, khawatir terbalik. Untungnya, sang nahkoda cukup mahir memotong ombak agar speed boattetap stabil melaju.

Untuk menuju Kayong Utara, pengunjung sebenarnya bisa memilih tiga jalur alternatif. Darat, laut/sungai dan udara. Jalur sungai/laut dapat ditempuh dari Pontianak, seperti yang saya lakukan.

Jalur darat, dapat ditempuh dari Pontianak selama 9 hingga 10 jam. Adapun, jalur udara dapat ditempuh dari Pontianak ke Ketapang selama 25 menit dan dilanjutkan dengan dua jam perjalanan darat.

Menginap di Kayong Utara

Pukul 15.20 WIB, kami sampai di Kabupaten Kayong Utara, tempat puncak acara Sail Selat Karimata dilaksanakan. Pantai Pulau Datok menjadi tujuan awal kami. Tidak ada transportasi umum di dalam kabupaten yang baru mekar pada 2007 itu.

Masyarakat mengandalkan motor atau mobil pribadi untuk mobilitas. Transportasi hanya ada untuk pergi ke kabupaten lain. Pengunjung seperti saya, mau tidak mau harus menyewa mobil dengan tarif Rp 600.000 per hari. Padahal, jalan di kabupaten yang memiliki enam kecamatan itu telah beraspal sangat mulus.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANPenampilan tarian kolosal garapan Guruh Soekarno Putra yang turut memeriahkan puncak rangkaian Sail Selat Karimata 2016 yang dipusatkan di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

Pembangunan jalan aspal itu dikebut demi mengejar puncak Sail Selat Karimata 2016. Untuk penginapan, sebenarnya ada sekitar lima hotel di kabupaten yang dihuni 95.000 jiwa itu. Namun, lantaran Kayong Utara tengah diserbu ribuan orang, maka hotel-hotel itu penuh disewa orang.Situasi ini kemudian dimanfaatkan penduduk untuk menyewakan rumah mereka. Bagi yang beruntung, mendapat rumah permanen dengan kipas angin dan kamar mandi di dalam. Namun yang kurang beruntung, seperti saya. Saya dan rekan-rekan jurnalis lainnya terpaksa menyewa satu rumah bekas Taman Kanak-Kanak berisi sembilan kamar.

Tidak ada tempat tidur, yang ada hanya kasur tipis. Temboknya bukan bata, melainkan triplek. Parahnya lagi, tidak ada air bersih mengalir di rumah itu. Kata penduduk, air dari bukit lebih banyak dialokasikan sementara waktu ke lokasi penyelenggaraan Sail Selat Karimata.

Alhasil, jika ingin buang air dan mandi, mesti numpang di tetangga. Syukurnya, masih ada listrik 24 jam dan kipas angin kecil yang menjadi obat di kala panas dan bosan.

Sekadar diketahui saja, untuk satu malam per kamar, sang pemilik mematok harga Rp 300.000. Cukup mahal dan tidak sepadan.

Obyek Wisata

Pantai Pulau Datok sendiri hamir mirip dengan Pantai di Pelabuhan Ratu. Pasirnya putih kusam, debur ombaknya juga cukup tinggi. Orang hanya bisa bermain air di tepi pantai saja, tidak dapat berjalan terlalu jauh ke laut.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANPenampilan tarian kolosal garapan Guruh Soekarno Putra yang turut memeriahkan puncak rangkaian Sail Selat Karimata 2016 yang dipusatkan di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

Saat saya bertandang ke pantai itu, sampah tampak bertebaran di pantai. Sekelompok muda-mudi kemudian datang melakukan ‘operasi semut’. Namun, belum bersih pantai dari sampah, mereka sudah menghilang.Di tepi jalan pantai, berdiri tenda-tenda makanan dan penjaja kacamata hitam. Pemandangan itu terlihat kumuh lantaran tidak tertata baik.

Selain Pantai Pulau Datok, dari masyarakat setempat, saya mengetahui ada obyek wisata lainnya, yakni Taman Nasional Gunung Palung. Namun, itu tidak masuk ke dalam kawasan pengembangan pariwisata pemerintah pusat.

Perlu Pembangunan Lebih

Bupati Kabupaten Kayong Utara Hildi Hamid menyebut, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke kampung halamannya nol. Ia mengaku, banyak pekerjaan rumah yang memang harus diselesaikan demi peningkatan pariwisata di kabupatennya.

Oleh sebab itu, Hildi sangat berharap Sail Selat Karimata ini menjadi pendorong pembangunan di kabupatennya.

KOMPAS.com/Yohanes Kurnia IrawanPenampilan tarian kolosal garapan Guruh Soekarno Putra turut memeriahkan puncak rangkaian Sail Selat Karimata 2016 yang dipusatkan di Pantai Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

“Pemerintah pusat menjadikan Sail Selat Karimata sebagai media untuk mengintervensi percepatan pembangunan di sini. Itulah yang kami harapkan,” ujar Hildi.Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengingatkan pemerintah agar kesuksesan penyelenggaraan Sail Selat Karimata diiringi pula dengan pembangunan infrastruktur.

“Banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari transportasi, yakni pembangunan bandara, pelabuhan laut hingga jalan beraspal,” ujar Hidayat.

Selain itu, turut diperhatikan pula pembangunan manusia di Kayong Utara, yakni melalui meningkatkan kualitas sarana dan prasarana sekolah.

Presiden Joko Widodo dalam sambutan puncak acara Sail Selat Karimata mengatakan, tidak ingin semangat acara tersebut ‘mati’ setelah acara berakhir.

“Saya tidak ingin setelah perayaan Sail ini berakhir, langsung sepi, langsung senyap dan tidak ada dampaknya bagi pergerakan ekonomi rakyat,” ujar Presiden.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANSuasana senja di Pantai Pulau Datok yang menjadi pusat perhelatan Sail Selat Karimata 2016 di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Sabtu (15/10/2016).

Justru setelah acara berakhir, masyarakat dibantu pemerintah setempat dan pusat harus lebih memacu roda perekonomiannya. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam laut yang tersedia di sana.”Sail ini harus jadi momentum kita bersama untuk menjaga, merawat dan memanfaatkan sumber daya alam kelautan kita dengan baik demi kesejahteraan kita semua. Juga menjadi momentum bersama untuk kembali pada jati diri kita sebagai bangsa bahari, mengembalikan kembali budaya bahari ke tengah kita,” kata Jokowi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *